Minggu, 09 Mei 2010

Behind the Story

     Semalam saya berkomunikasi via telepon dengan teman yang cerita hidupnya sedang saya tulis. Ada keakraban seperti biasanya, saling bercerita kisah-kisah hidup kami, bercanda, tertawa dengan gaya yang sangat konyol. Sedari dulu memang gaya persahabatan kami terkesan agak gila, gaya bicaranya yang ceplas ceplos membuat saya bersemangat jika sedang berbicara. Mungkin orang lain yang baru mengenalnya tak akan pernah mengira, ia punya masa lalu yang begitu kelam, bahkan pahit untuk diceritakan. Karena ya itu tadi, ia tak pernah menampakkan luka di hatinya yang paling dalam. Selama ini kami hanya bisa berkomunikasi via telepon, karena ia tinggal di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, tempat di mana saya juga dulu dilahirkan. But it's not a problem for us. Kita masih bisa ketawa-ketawa, tidak melulu bicara soal proyek novel saja.Sebenarnya, tersimpan jauh di lubuk hati saya yang terdalam, keinginan, bahwa, someday, saya bisa mempertemukan ia dengan putrinya yang sudah sekian lama terpisah (saya menitikkan air mata ketika menulis kalimat ini, sumpah!), karena saya juga bisa mengandaikan bagaimana rasanya kehilangan anak yang telah kita lahirkan, kita rawat dengan penuh kasih sayang, pasti pedih, teramat pedih. Saya hanya bisa berharap, semoga novel ini cepat selesai dan bisa segera terbit, sehingga bisa di baca oleh anaknya nun jauh di sana...amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar